M.Haris Seorang Bloger Muda Nan Muslim Asal Kota Bandar Lampung Yang Sedang Menimba Ilmu Dunia dan Akhirat di Salah Satu Pondok Pesantren

Bersih-Bersih Rumah dari Lumpur Banjir

4 min read

Indonesia adalah negara yang beriklim tropis yang mempunyai 2 musim, sehingga tidak heran jika negara kita sering terjadi bencana. Indonesia sendiri dihimpit oleh dua benua dan dua samudra yang membuat negara tercinta kita ini tidak jarang mengalami yang tidak kita inginkan dengan adanya kemarau dan curah hujan yang tinggi

ketika kita mengetahui itu semua sekarang saatnya kan ku ceritakan

Penasaran yuk simak sampai habis..

Semua Sudah di Tangan Allah

Jam
pexels.com

Mungkin bisa dibilang santri lah yang paling kudet (kurang update) tentang dunia luar, karena tidak adanya alat komunikasi menjadi alasan yang tepat. Sering kali adanya kejadian-kejadian penting, santri lah yang pertama kali akan timbul rasa penasarannya

Seperti yang ku alami.. Ketika duduk di bangku kelas 1 MTS karena ku hanya bisa mendengar, tidak tahu benar atau tidaknya bahwa desa ku terkena musibah

Mendengar berbagai cerita dari banyaknya santri membuatku menjadi risau akan keberadaan rumah. Aku hanya bisa memanjatkan do’a kepada sang khaliq sang maha pencipta

semakin banyak yang mengatakan…

“Ris ente koq ngga pulang, rumah ente kabanjiran loh”

Dengan tidak ada informasi yang real maka belum bisa di percayai sepenuhnya, berhusnidzon saja kepada Allah subhanahu wata’ala

Mencoba untuk melupakan… “Tet”..”Tet” Bel yang menandakan akan dimulainya pelajaran pun sudah terdengar, maka ku melangkahkan kaki untuk memasuki kelas dengan duduk  rapih dan tidak keluar masuk kemana pun

Selang beberapa menit datanglah ustadz yang ingin menuangkan ilmunya kepada kami

Seperti biasa memulai materi dengan mengucapkan salam, dan puji syukur akan menambah keberkahan ilmu yang kita dapat

Sebelum memasuki materi tidak biasanya ustadz yang satu ini memberikan kabar duka. ” Jantung ku pun berdebar-debar apakah semua isu itu benar..?”

Ternyata benar semua kabar-kabar yang memasuki lobang telinga ku ini, bahwa desaku terkena musibah banjir tepatnya sekitar jam 1.32 malam

Mendengar ucapan  ustadz, sedih dan khawatir yang pertama melintas di seluruh hatiku. Kemudian sehabis pelajaran selesai akupun ingin menghubungi keluarga yang ada dirumah dengan cara meminjam handphone

Mencoba terus mencoba untuk menghubungi, hingga beberapa kali tidak ada respon dari siapa pun, rasa cemas pun muncul…

Aku pun mempunyai rencana bersama teman-teman, yang rumahnya tidak seberapa jauh dengan rumahku, yang ke mungkinan terkena genangan air yang lebih tinggi. Kami ingin meminta izin pulang untuk membantu keluarga yang terkena musibah banjir

mendatangi rumah asatidz..

Alasan yang yang tidak masuk akal diwaktu itu, karena kebanyakkan santri meminta izin lantaran sakit atau ada suatu acara di keluarganya.

Apa boleh buat jika hati sudah bergerak, maka anggota tubuh pun akan mengikutinya

Pulang Dengan Matahari Yang Hampir Tenggelam

matahari tenggelam
pexels.com

Berusaha untuk mendapatkan izin dari asatidz, jika kami keluar begitu saja akan menambah masalah

Kesana kemari mencari ustadz teeeet….”Sensor ” tidak ada ditempat biasa dia tinggal, kami pun bertanya kepada santri yang sedang duduk

Ente ngeliat ustadz teeeet….”Sensor” ngga ..? Salah satu dari kami bertanya

Tadi pas jam pelajaran kayak nya beliau pergi loh..!! santri menjawab dengan menggunakkan bahasa tubuh

Mendengar jawaban santri itu pun kami tidak pikir panjang , ketika kata-kata itu memasuki rongga telinga. kami putuskan untuk segera pulang karena hari semakin sore

Dengan menitip pesan salam kepada teman untuk disampaikan ke ustadz, bahwa kami pulang untuk membantu keluarga dirumah

Keluar dari gerbang Pesantren bukanlah wajah ceria yang kami paparkan, akan tetapi rasa khawatir bercampur penasaran

Perjalanan bukan hanya sampai disitu..

Karena kami harus mencari tumpangan untuk menuju ke wilayah yang terdapat angkutan umum. Berjalan seperti orang yang tidak mempunyai siapa-siapa, karena tenaga kami sudah terkuras habis di Pesantren untuk mencari ustadz

Berjalan dengan tenaga yang tersisa

Beberapa menit kemudian..

Kerja keras tidak membohongi hasil, akhirnya “Alhamdulillah” kami ucapkan, ada mobil pick up yang memberi tumpangan untuk kami. Merasa bahagia bisa duduk merebahkan kaki yang sudah terasa ingin patah ini

Tidak lama dari itu, pick up yang kami tumpangi berbeda arah dengan tujuan sebenarmya, ya apa boleh buat kami pun turun untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki

Berjalan dengan tenaga sudah tidak membekas lagi pada tubuh kami, serasa ingin cepat sampai di rumah. Berhenti kemudian melanjutkan perjalanan cukup untuk memulihkan tenaga yang terkuras

Tidak disangka bahwa pada pukul 16.56 ada yang memanggil nama-nama kami

“Dek-dek pingin kemana..?”

Ternyata ada angkutan umum yang menghampiri kami. Dengan tersenyum bahagia kami memasuki dengan keadan tidak percaya, Karena jarang sekali ada angkutan umum yang melintasi daerah tersebut pada pukul 16.56

Akhirnya sampai Juga

sampai tujuan
pexels.com

Duduk terdiam di dalam angkutan umum itu lah yang kami lakukan, untuk meng-istirahatkan tubuh dari masalah-masalah yang hampir membuatku putus asa untuk pulang, dengan membayangkan suasana dirumah seperti apa

Beberapa menit kemudian…

Turun dari angkutan umum dengan tergesa-gesa dengan membawa tas. Penasaran apakah keluarga ku dirumah akan baik-baik saja. Berjalan memasuki gang, melewati bekas-bekas lumpur yang membekas di jalanan

Tak lama dari itu ada seorang bapak yang memberitahu ke kami bahwa daerah atau desaku masih tidak bisa dilalui hanya dengan menggunakkan kedua kaki saja

“Terus kami harus bagiamana..” ada salah satu dari kami yang mengeluh

Dengan meyakinkan pikirannya ku mengatakan”Sudah Allah bersama kita”

Ternyata benar apa yang dikatakanya, kami kesusahan untuk mengambil jalan yang benar, karena dari seluruh jalan hanya sedikit sekali yang tidak terkena lumpur dari banjir. Kami pun harus melangkahkan kaki dari tempat satu ke tempat yang lain dengan berhati-hati

sampai dirumah..

Berusaha melepaskan lumpur-lumpur yang menempel di kaki ku,dan mencoba untuk lebih cepat demi melihat rumah ku. Sampai nya dirumah bersyukur itulah awal yang ku ucapkan bahwa tidak ada korban dari keluarga ku sendiri, hanya saja rumah ku di penuhi lumpur

Ku lihat abi sedang membersihkan lumpur-lumpur di haula sekitar rumah, dengan melihat kedatangan ku maka abi terkejut

koq pulang…?

Iya mau bantu-bantu bersihin rumah..? jawab ku

Karena aku belum memberitahu, sekiranya ingin pulang dan membantu

Memasuki rumah kemudian ku letakkan tas ku di kamar, berjalan  apa yang aku lihat tidak seperti sebuah kamar lagi. Kasur, lemari, baju, kemudian barang-barang ynag ada disekitarnya dibasahi oleh air yang berlumpur

Berpikir ku akan tidur diman malam ini…?

Kemudian ku berniat untuk melihat yang ada disekitar rumah ku, dengan keluar berjalan dengan hati-hati. Tidak bisa membayangkan bagaimana waktu itu yang terjadi, sampai-sampai pagar di belakang rumah roboh sebab di hantam air sungai yang meluap

Waktunya Bersih Bersih

 

Keesokan harinya..

Seperti yang diniatkan sebelumnya bahwa pulangku ke rumah untuk membantu orang tua untuk membersihkan lumpur-lumpur banjir, ini akan menjadi pekerjaan yang membutuhkan waktu seharian penuh

Keluar masuk rumah untuk menjemur barang -barang yang basah dan mencuci pakian yang terkotori oleh air sungai tidak bisa dihindari dari kami, begitupun tetangga yang di depan halaman rumahnya di penuhi oleh pakian-pakian yang baru saja di cuci

Mungkin kamu tidak pernah merasakan apa yang ku alami, ataupun sebaliknya. Bagaimana perjuangan yang melelahkan menuju rumah untuk membantu keluarga

Ya berjuanglah semaksimal mungkin untuk membantu keluarga yang membutuhkan bantuan, karena pengorbananya tak seimbang dengan apa yang kamu lakukan, dan niatkan itu semua karena Allah

“Membersihkan lumpur-lumpur dari banjir”

M.Haris Seorang Bloger Muda Nan Muslim Asal Kota Bandar Lampung Yang Sedang Menimba Ilmu Dunia dan Akhirat di Salah Satu Pondok Pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *