M.Haris Seorang Bloger Muda Nan Muslim Asal Kota Bandar Lampung Yang Sedang Menimba Ilmu Dunia dan Akhirat di Salah Satu Pondok Pesantren

Keputusanku Untuk Menjadi Santri

3 min read

Hai teman, apa kabar hari ini..? Ya masih tentang pengalaman ku, jika kalian menyimak artikel-artikel sebelumnya. Pasti sebagian dari kalian sudah tahu perjalanan hidup ku. Kalian bisa mengambil beberapa hikmah dari artikel sebelumnya

Siapa yang tidak pernah mendengar Pondok Pesantren..? Ya tempat tinggal para santri ini sangat berkesan dalam hidup ku, apa aja keseruan ku di Pesantren. Penasaran..? Yuk. Simak sampai habis

Menjadi seorang santri itu tidak seburuk teman teman bayangkan, iya benar..!!banyak orang bilang “Santri itu jorok”, “Santri itu kurang gaul” dll. Di arikel kali ini, aku kan membuktikan bahwa itu semua salah

Setelah Lulus SD ku Harus Mondok

Santri
unsplash.com

Setalah lulus SD keinginan ku untuk memasuki Pondok Pesantren semakin besar.

Lulus SD di tahun 2016. Dengan nilai yang memuaskan, menjadi acuan bagiku karena harus memilih berbagai pondok pesantren

Bingung karena banyak sekali pondok yang menurut ku memenuhi standar, berkeliling dengan orang tua untuk mencari tempat tinggal santri ini. Dan akhirnya Ulul Albab lah menjadi pilahanku

Tau Ulul Albab dari mana..?

Ya. Mempunyai saudara dekat, yang telah mengalami kehidupan menjadi santri, selama 3 tahun lamanya. Menjadikan ku memilih Ulul Albab, karena melihat etika dia saat bermain, ku tertarik dengan pondok pesantren itu (Ulul Albab)

Meninggal kan teman SD, rumah, keluarga ,dan kebiasan. Mungkin ini yang menjadikan kalian takut untuk menjadi santri, karena di Pesantren banyak aturan, karena di Pesantren makan seadanya, karena di Pesantren harus pisah dengan orang tua dll.

Tapi itu semua tak kan kerasa teman, selama kita bisa menaati peraturan-peraturan. Jujur saya merasakan hal hal yang berubah di dalam hidup, kalo tidak percaya, ayo buktikan !!. Hidup lah menjadi seorang santri

Menginjakkan kaki di Pondok Pesantren Islam Ulul albab

Ulul Albab lampung selatan
ppsbululalbab.com

Di pagi hari yang cerah, dengan matahari bersinar terang mebentang di langit yang biru. Ku bersiap-siap untuk menjadi seorang santri. Dengan barang-barang yang sudah di kemas rapi, ku masukkan ke dalam mobil berwarna merah, yang akan mengantarkan ku ke Pondok Pesantren

Beberapa menit lagi ku akan meninggalkan tempat tinggal dan keluarga tercinta. Tapi dengan penuh semangat tidak menjadikan ku mundur untuk tidak menjadi santri.

Bersalaman tidak ku lewati agar menjadi keberkahan untuk ku ber-tholabul ilmi

perjalanan yang lumayan jauh. Menjadi kan ku tidak boleh mengingat-ingat apa yang menjadi kesaharian di rumah, karena itu akan menyiksa diri ku sendiri (tidak jadi nyantri). Ada yang pernah mengalami…?

sampai di pondok pesantren, dengan menurunkan barang barang yang akan menjadi kebutuhan.

Ku hirup nafas dalam dalam dan,”Waw” kalimat pertama yang ku ucapkan, ketika di sambut oleh para santri, dengan sarung dan kepala berpeci serta berseragam rapi. Ya, ku diantar kan menuju kamar baru. Kemudian ku letakkan barang barang di depan kamar yang di isi dengan beberapa santri

Setelah itu ku, harus mengikuti khutbah ta’aruf yang tidak asing lagi di telinga para santri. Dengan persembahan drama, nasyid, dan pembekalan pembekalan untuk menjadi santri, ku makin tertarik dengan pondok pesantren. Dan acara di tutup dengan makan makan, yang ku tunggu

Saatnya

santri menangis
datdut.com

Mengucapkan salam ketika memasuki kamar baru ku ini.

“Assalamua’alaikum wr. wb”

Melihat sebagian santri masih di dampingi oleh keluarga nya masing masing, yang sedang membantu merapihkan baju baju yang mereka bawa. maka ku harus mencari lemari untuk menempatkan baju dan barang-barangku

Segala yang ku butuhkan telah terpenuhi, dan saatnya ku harus berpisah dengan keluarga. Dengan air mata tidak bisa tertahan lagi, ku harus rela, karena ku harus menjadi yang lebih baik

Keluarga telah meniggal kan ku, kenagan saja yang hanya terlintas di kepala, dengan tidur di atas kasur ku bayangkan itu semua.

“Assalamualaikum wr. wb, siapa nama nya..?¬† Datang seseorang menghampiri ku

“Nama ku Muhammad Haris ihtirom”

“Jangan sedih dong, ngobrol sana sama teman baru mu” dengan sedikit tersenyum

Ya. Lalu ku turun dari atas kasur, untuk mulai berkenalan dengan teman baru, mulai dari ku tanya siapa namanya..?, dimana tinggalnya..?dll. Akhirnya rasa kebayang dengan keluarga pun hilang

Teman BaruAngkatan 10 Pesantren Ulul Albab

 

Kehidupan di pesantren membuatku mempunyai banyak teman, dari mulai berbeda suku, daerah, kebiasan dll. Di tambah dengan teman yang memiliki rumah tak jauh dari ku.

Hari-hari di isi dengan kebersamaan. Dari mulai mencuci baju bersama, mandi harus ngantri, berbagi makanan dll. Membuatku menjadi lupa dengan keluarga di rumah.

Tidak menjadi kan alasan, ketika salah satu di antara kita tidak menempati dipan yang sudah di tentukan. Apa guna nya teman, jika tidak saling perhatian.

Mempunyai teman dengan fasilitas yang kurang, menjadikan semua santri tertarik untuk lebih mendekatinya. Ya kita di didik untuk saling melengkapi, saling berkorban, itu lah santri.

Membaca Al qur’an

kitab suci Al qur'an
pexels.com

“Tidak di bilang santri, kalau tidak mengaji”.

Memang benar, sebagian santri itu tidak luput dari yang namanya huruf hijaiyah, seperti mengaji, menggunakan bahasa arab di setiap hari nya dll.

Akan tetapi sebanyak apapun ilmu santri, mereka pasti akan tawadhu karena ilmu yang mereka dapatkan tidak seberapa dengan ilmu ulama-ulama terdahulu

Hari demi hari ku harus jalani, dengan berbagai peraturan yang sudah menjadi kebiasan ku di setiap hari. Karena adanya aturan menjadikan semua santri displin.

Galau rasanya jika beberapa hafalan ku hilang. Iya mungkin cukup mengherankan, bagi yang belum menganal santri lebih dalam. Bagi ku ini adalah hal yang harus di sesali.

Saat ujian tiba

ujian
openulis.com

 

Belajar, itu lah tujuan ku untuk pondok. Dengan kegelapan yang menyelimuti, tidak menjadi alasan seorang santri. Berlomba lomba untuk  mendapatkan nilai terbaik, dengan cara bangun malam menghafalkan mata pelajaran yang akan di uji.

Berbeda dengan anak-anak di kehidupan luar pasantren. Kita jalani kehidupan dengan belajar menggunakan lilin, berusaha mengingat seluruh apa yang telah di hafal, itu yang menjadi ciri khas kami

Tempat kesukaan ku ketika belajar adalah di gazebo, karena dengan suasana yang tidak terlalu dekat dengan masjid, kamar, kelas dll, itu menjadikan ku mudah tuk memahami pelajaran. Kalau kalian dimana nih..?

M.Haris Seorang Bloger Muda Nan Muslim Asal Kota Bandar Lampung Yang Sedang Menimba Ilmu Dunia dan Akhirat di Salah Satu Pondok Pesantren

One Reply to “Keputusanku Untuk Menjadi Santri”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *