M.Haris Seorang Bloger Muda Nan Muslim Asal Kota Bandar Lampung Yang Sedang Menimba Ilmu Dunia dan Akhirat di Salah Satu Pondok Pesantren

Satu Tahun Menjadi Penjaga Perpustakaan

2 min read

Satu tahun menjadi penjaga perpustakaan- Mungkin sebagian dari kamu belum pernah mendengar kata Al-maktabah. Ya Al-maktabah atau orang indonesia sendiri menyebutnya dengan perpustakaan, tempat yang satu ini identik dengan banyaknya buku-buku pustaka

Banyaknya buku-buku pustaka menjadikan kita menyebutnya dengan “Gudang segala ilmu”. Tempat ini bisa sering kita jumpai di berbagai daerah seperti sekolah, universitas, negara dan masih banyak lagi.

Tanpa kita sadari perpustakaan menjadi peran sangat istimewa bagi hidup kita, karena banyaknya ilmu yang dapat merubah pola pikir kita menjadi benar.

Nah..Apakah kamu orang yang suka berkunjung ke perpustakaan..?, Dan hal pertama apa yang kamu sukai di sana..? Ya di artikelku kali ini akan sedikit membagi cerita mengapa aku bisa menjadi penjaga perpustakaan

Hari-Hari di Pesantren Menjadikanku Penjaga Perpustakaan

buku bacaan
pexels.com

Bermula dari kesaharian di Pesantren yang hari demi hari makin membosankan, karena hanya bisa melakukan hal yang sama di setiap harinya. Aku ingin membawa buku-buku yang bisa menemani di kesaharianku.

Ya di mulai ketika ku menginjakkan kaki di kelas 2 MTS dengan mata pelajaran yang makin tahun semakin bertambah, aku berniat untuk menambah wawasan tentang islam. Berbagai buku aku bawa dari rumah ke Pesantren untuk dibaca di keseharianku

Dengan mencari tempat yang sesuai dengan keinginan ku, hingga akhirnya  memilih kelas yang menjadi tempat favorite untuk membaca buku-buku

Ya terbiasa memulai hari demi hari dengan berdiam di kelas bersama seseorang yang setia menemaniku di saat kondisi semangat melemah. Dia “Abid Nur Muqsith” orang asal Bandar Jaya ini menarik hatiku untuk selalu ingin bersamanya, salah satunya bercanda di dalam perpustakaan

Banyak hal-hal yang menjadi kenangan yang ingin di ulangi kembali, karena merasa kehilangan di saat ku tidak bisa melakukannya lagi. Kebiasan-kebiasan yang dilakukan di Pondok Pesantren menjadikanku lebih baik ketika tidak menginjakkan kaki di tanah Lampung

Perpustakaan di sudut sekolah menjadi hal yang susah untuk dilupakan. Awal mula memegang jabatan OSIS merasa sulit untuk kutuangkan kata-kata di artikel ini. “Derita menjadi bagian perpustakaan”

Setelah beberapa bulan ku jalani amanah-amanah dari asatidz ternyata tidak sesulit ku bayangkan ketika awal mula di lantik untuk menjadi OSIS

Mengapa aku bisa menjadi bagian perpustakaan ?

Inilah yang kerap ada di pikiranku, karena tidak biasa menjaga buku-buku yang terlalu banyak ini yang akan menjadi tanggung jawab kami sepenuhnya. Ya sering kali beberapa santri yang melaporkan bahwa banyak buku-buku pustaka yang berserakan di mana mana. Apa boleh buat bersabar itulah kuncinya

Mungkin aku salah satu anggota OSIS  yang pendiam, tapi diamnya aku mempunyai sebuah alasan yang bisa menjawab seluruh pertanyaan-pertanyaan dari semua orang

“Kok ente orangnya pendiam sih ris”

“Diem-diem baek sih ris ngobrol ngapa” dan masih banyak lagi

Ya sudah aku jalani saja…

Menjadi Anggota Osis

struktur kepemipinan
pexels.com

OSIS atau di sebut Organisasi Intra Sekolah ini tidak akan luput dari sekolah di setiap indonesia, termasuk yang ada di Pesantrenku

Di saat pelantikan OSIS tiba, sebagian dari kami (angkatan 10) tidak ingin mendapatkan amanah untuk menjadi bagian dari OSIS. Dikarenakan beberapa alasan yang tidak wajar

Tapi keputusan sudah berada di lembar kertas yang dipegang oleh ustadz. Dengan duduk bersila kami menunggu untuk dibacakan, mendengarkan, dan menjalaninya

Suasana di sanapun menjadi tegang dan lucu, karena kami tidak percaya yang diamanahi untuk menjadi bagian dari OSIS

ketika namaku disebut oleh ustadz untuk menjadi bagian perpustakaan, keringat pun keluar dari tubuh yang mengenakan baju berwarna putih dan celana biru ini, dengan rasa gugup ku bangkit dan segera maju

Di depan para adik-adik kelas disebutkanlah tugas dari masing-masing bagian. Aku harus menerima kenyataan yang ada, bahwa tugas- tugas bagian perpustakaan cukup banyak

Perpustakaan diSudut Sekolah

kelas
pexels.com

Hari pertama menjadi OSIS sangat berat meskipun mempunyai beberapa anggota di belakangku, akan tetapi tetap rasanya seperti harus menjaga harimau disaat tidur. Dengan melihat keseliling ruang perpustakaaan aku katakan “Inilah yang akan ku jaga dengan baik”.

Hari demi hari aku lewati dengan sabar karena harus berjalan bolak balik menuju perpustakaan, karena banyaknya kelas yang memerlukkan buku untuk belajar. Terkadang menggangu jam pelajaranku yang harus diselesaikan

Disaat ujian tiba kami lah yang mengurus semua buku yang ingin dibagikan ke seluruh santri, menghabiskan waktu seharian penuh untuk jumlah ratusan santri. Bingung terkadang jika salah satu santri tidak mendapatkan buku yang sudah ditentukan

Di sela-sela ujian tidak jarang aku berkeliling mencari buku-buku yang tidak bertuan, agak kesal ketika melihat buku yang tersobek. Dan ini akan aku umumkan ketika para santri berkumpul rutin di setiap pagi harinya

Ketika ujian selesai inilah yang menjadikan hidupku penuh dengan buku-buku, karena banyaknya santri yang mengembalikan buku yang telah dipinjamnya. Belum lagi jika ada santri yang beralasan bahwa ia lupa meninggalkan bukunya dimana. Ini akan menambah tugas kami

Ini rutin kami lakukan disetiap ada ujian di Sekolah

Berkumpul diSetiap Pekannya

kerja sama
pexels.com

Berkumpul disetiap pekannya adalah hal yang rutin kami lakukan, guna untuk menambah kekompak kan. Di dalam meeting kami bahas yang menjadi problem dalam se-pekan ini

M.Haris Seorang Bloger Muda Nan Muslim Asal Kota Bandar Lampung Yang Sedang Menimba Ilmu Dunia dan Akhirat di Salah Satu Pondok Pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *